Maluku Utara dikenal sebagai salah satu daerah bersejarah di Indonesia yang dijuluki Kepulauan Rempah. Provinsi ini mencakup gugusan pulau besar dan kecil, di antaranya Ternate, Tidore, Halmahera, Morotai, Bacan, dan lain-lain. Kekayaan budaya Maluku Utara tercermin dalam tradisi, kesenian, hingga pakaian adat yang masih dilestarikan hingga kini.

Pakaian adat Maluku Utara bukan sekadar busana, melainkan simbol identitas, status sosial, serta nilai-nilai adat yang diwariskan sejak masa kerajaan Ternate dan Tidore. Artikel ini akan membahas secara detail tentang jenis-jenis pakaian adat Maluku Utara, makna filosofisnya, fungsi, serta tantangan pelestariannya di era modern.

Sejarah Singkat Pakaian Adat Maluku Utara

Sejarah pakaian adat Maluku Utara erat kaitannya dengan kejayaan Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore . Dua kerajaan Islam besar ini memiliki struktur sosial yang ketat, sehingga pakaian juga menjadi penanda status sosial.

  • Kaum bangsawan mengenakan busana megah dengan kain tenun, hiasan emas, dan pernak-pernik berharga.
  • Masyarakat biasa menggunakan busana sederhana dari kain tenun lokal atau katun polos.
  • Pengaruh asing seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Arab, dan Cina juga turut mempengaruhi corak pakaian adat di Maluku Utara, terutama dalam motif, warna, dan penggunaan perhiasan.

Pakaian Adat Maluku Utara

Pakaian adat Provinsi Maluku Utara biasanya dikenakan pada waktu menyelenggarakan upacara-upacara atau pesta adat, missalnya upacara perkawinan dan penyambutan tamu. Pakaian adat untuk upacara pada tiap-tiap suku bangsa di Provinsi Maluku Utara berbeda-beda. Hal ini disebabkan tiap-tiap suku bangsa mempunyai adat, ritual dan kepercayaan yang tidak sama. Berikut pembahasan pakaian adat dari beberapa suku bangsa yang terdapat di Provinsi Maluku Utara.

Pakaian Adat Ternate dan Tidore

Gambaran fisik pakaian adat masyarakat Ternate dan Tidore, memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. Pakaian yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya, atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal, berbeda dengan pakaian yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini masuk ke dalam wilayak Provinsi Maluku Utara merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Sudah tentu, keberadaan keturuna sultan dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berpakaian mereka.

pakaian-adat-maluku-utara

Ada beberapa jenis pakaian yang dikenakan dalam upacara-upacara adat. Pakaian yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke bawah, baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan. Sementara itu, leher jas, ujung tangan, dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya.

Selain itu, penampilan pakaian yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. Pakaian yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia, yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas, serta kain panjang. Perhiasan lainnya yang dikenakan permaisuri tersebut meliputi kalung, bros, dan peniti yang terbuat dari intan, berlian atau emas. Di samping itu, mereka juga mengenakan hiasan lainnya berupa konde yang berukuran besar, sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri.

Selain pakaian adat yang disebut tadi, ada pula pakaian adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. Pakaian adat yang dipakai oleh ramaja pria disebut baju koja, yaitu semacam jubah panjang dengan warna-warna merah muda, seperti biru muda dan kuning muda. Konon warna tersebut melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Baju koja biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam, berikut toala palulu di kepalanya. Para remaja putri biasanya memakai pakaian yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning, oranye, atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan sebelah kiri dan kanannya. Tidak lupa, mereka juga menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma, yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran, anting dua susun, sedangkan giwang tidak boleh dipakai mereka, serta alas kaki yang disebut tarupa.

Secara umum pakaian adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut, celana panjang, dan ikat kepala. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lain, yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. Adapun pakaian adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. Pakaian ini dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka, baik sebagai permaisuri, pembantu permaisuri, atau diselaraskan dengan usia mereka,remaja contohnya.

Sementara itu, pakaian adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk pakaian sehari-hari maupun pakaian yang dikenakan saat upacara-upacara adat, umumnya menggambarkan kesederhanaan. Pakaian yang biasa dikenakan oleh  kaum wanita dalam aktifitasnya sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga dipertengahan sikut. Baju tersebut umumnya berwarna polos. Pakaian kerja dalam keadaan bersih, biasanya dipakai juga untuk baju dirumah. Adakalanya mereka hanya mengenakan kain songket dan baju susun. Pakaian kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh, yaitu baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang, dan celana popoh, yaitu celana setinggi betis yang berwarna hitam. Samahalnya dengan pakaian wanita, pakaian kerja pria biasanya digunakan sebagai pakaian sehari-hari untuk dirumah.

Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat, pakaian yang digunakan oleh kaum pria dan kaum wanita tidak berbeda. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang, sedangkan kaum wanita mengenakan baju susun dan kain songket. Adapun ketua adat yang memimpin upacara adat tersebut menggunakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa; celana dino, yakni celana dari kain tenun berwarna jingga atau kuning, lengkap dengan lengso duhu, yakni tutip kepala berwarna kuning muda.

Jenis-Jenis Pakaian Adat Maluku Utara

1. Manteren Lamo (Pakaian Adat Pria)

Pakaian adat pria Maluku Utara yang dikenal sebagai Manteren Lamo merupakan busana yang banyak dipakai dalam upacara resmi kerajaan.

Ciri-ciri Manteren Lamo:

  • Baju : berupa jas panjang berwarna hitam atau merah dengan kancing emas.
  • Bawahan : celana panjang hitam atau putih, dipadukan dengan kain sarung atau selendang tenun yang dililitkan di pinggang.
  • Penutup kepala : topi berbentuk segitiga atau peci hitam, kadang dekorasi ornamen emas.
  • Aksesori : keris atau pedang kecil yang diselipkan di pinggang.

Makna filosofis:

  • Warna hitam melambangkan kewibawaan dan keteguhan hati.
  • Hiasan emas melambangkan kejayaan kerajaan Ternate dan Tidore.
  • Pedang menjadi simbol keberanian dan tanggung jawab seorang pria.
2. Kimun Gia (Pakaian Adat Wanita)

Pakaian adat wanita Maluku Utara disebut Kimun Gia , biasanya dikenakan dalam acara adat, pernikahan, hingga pertunjukan budaya.

Ciri-ciri Kimun Gia:

  • Atasan : kebaya panjang dari kain halus, biasanya berwarna cerah seperti merah, kuning emas, atau putih.
  • Bawahan : kain tenun khas Maluku Utara, dipakai seperti sarung atau dililit menyerupai rok panjang.
  • Selendang : disampirkan di bahu untuk menambah kesan anggun.
  • Perhiasan : kalung emas, gelang, cincin, dan hiasan kepala berupa bunga emas atau mahkota kecil.
  • Sanggul rambut : rambut digelung rapi dengan tambahan tusuk konde emas.

Makna filosofis:

  • Warna cerah melambangkan keceriaan, kesuburan, dan kemakmuran.
  • Perhiasan emas menjadi simbol status sosial serta kecantikan perempuan Maluku Utara.
  • Selendang menunjukkan sikap anggun dan lemah lembut.
3. Pakaian Adat Pernikahan Maluku Utara

Pernikahan adat di Maluku Utara sarat akan menjadi simbol budaya dan religius. Pakaian pengantin biasanya lebih megah dibandingkan pakaian adat sehari-hari.

  • Pengantin Pria : mengenakan Manteren Lamo versi mewah dengan jas berwarna merah atau emas, kain songket, dan penutup kepala berhias permata.
  • Pengantin Wanita : mengenakan Kimun Gia khusus dengan kebaya panjang, kain songket mewah, serta mahkota emas yang menjulang di kepala.

Pakaian ini melambangkan kebesaran adat sekaligus mengikat pasangan dalam ikatan suci yang disaksikan keluarga besar.

4. Busana Tarian Adat

Selain pakaian sehari-hari, Maluku Utara juga memiliki busana khas untuk tari-tarian tradisional.

  • Tari Soya-Soya : penari pria mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala merah, membawa pedang sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah.
  • Tari Legu Gam : penari wanita yang mengenakan kebaya berwarna cerah dengan kain tenun, dipadukan selendang dan perhiasan.
  • Tari Cakalele : penari pria yang mengenakan pakaian perang dengan baju tanpa lengan, kain tenun, dan senjata tombak.
5. Pakaian Adat Rakyat Biasa

Tidak semua pakaian adat Maluku Utara megah dan penuh perhiasan. Orang-orang biasa di masa lalu mengenakan busana sederhana:

  • Pria menggunakan kain sarung dengan baju lengan panjang atau tanpa baju (hanya kain penutup tubuh).
  • Wanita mengenakan kebaya sederhana dengan kain tenun polos tanpa banyak perhiasan.

Kesederhanaan ini menegaskan adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat Maluku Utara.

Fungsi Pakaian Adat Maluku Utara

  1. Upacara Pernikahan
    Digunakan sebagai busana sakral untuk memperkuat ikatan keluarga.
  2. Acara Adat dan Kerajaan
    Misalnya dalam perayaan hari besar Kesultanan Ternate atau Tidore.
  3. Kesenian Tradisional
    Dipakai dalam tari Soya-Soya, Tari Legu Gam, hingga tari perang Cakalele.
  4. Simbol Status Sosial
    Bangsawan mengenakan busana mewah dengan emas, sedangkan rakyat biasa memakai busana sederhana.
  5. Identitas Daerah
    Pakaian adat Maluku Utara menjadi ciri khas daerah dan pembeda dari budaya lain di Indonesia.

Makna Filosofis Pakaian Adat Maluku Utara

  1. Warna
    • Hitam : keberanian, keteguhan hati.
    • Merah : semangat juang dan kegembiraan.
    • Emas: kemakmuran, kejayaan kerajaan.
    • Putih: kesucian dan religiusitas.
  2. Perhiasan
    • Mahkota emas melambangkan martabat perempuan.
    • Kalung dan gelang emas melambangkan kesejahteraan.
  3. Senjata
    • Pedang dan keris bukan sekedar hiasan, melainkan simbol keberanian dan kehormatan pria Maluku Utara.

Perbandingan Pakaian Adat Ternate dan Tidore

Tidak yakinTernateTidore
Pakaian PriaJas panjang hitam dengan hiasan emasJas merah atau putih dengan kain songket
Pakaian WanitaKebaya panjang berwarna cerah, kain songket, mahkota emasKimun Gia dengan dominasi warna merah atau kuning emas
AksesoriKeris, ikat kepala hitamPedang kecil, ikat kepala berhias emas
FilsafatKewibawaan, keberanianKemakmuran, kesucian

Pakaian Adat Maluku Utara di Era Modern

  1. Festival Budaya
    Pakaian adat Maluku Utara ditampilkan dalam Festival Legu Gam (perayaan ulang tahun Sultan Ternate) dan acara budaya lainnya.
  2. Upacara Pemerintahan
    Pada acara resmi, pejabat daerah kadang mengenakan pakaian adat untuk menonjolkan identitas Maluku Utara.
  3. Wisatawan
    tertarik mencoba busana adat Maluku Utara saat berkunjung ke Ternate atau Tidore, terutama untuk berfoto dengan latar belakang benteng bersejarah.
  4. Fashion Kontemporer
    Desainer lokal mulai mengadaptasi motif kain tenun Maluku Utara ke busana modern seperti gaun pesta dan batik printing.

Pakaian adat Maluku Utara adalah cerminan sejarah panjang, kejayaan kerajaan Islam, serta pertemuan budaya lokal dan asing. Dari Manteren Lamo untuk pria hingga Kimun Gia untuk wanita, setiap detail pakaian sarat dengan makna filosofis tentang keberanian, kehormatan, kemakmuran, dan kesopanan.

Di era modern, tantangan globalisasi dan berkurangnya minat generasi muda membuat pelestarian pakaian adat Maluku Utara semakin mendesak. Namun dengan festival budaya, promosi pariwisata, hingga adaptasi fashion kontemporer, pakaian adat ini tetap bisa hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat Maluku Utara.

Lebih dari sekedar busana, pakaian adat Maluku Utara adalah warisan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan penanda identitas sekaligus simbol kejayaan kepulauan rempah-rempah.

Baca juga:
34 Pakaian Adat Indonesia Lengkap Gambar, Nama, dan Daerahnya
Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat, Lengkap Penjelasannya
Pakaian Adat Maluku, Lengkap Penjelasannya

Demikian pembahasan tentang “Pakaian Adat Maluku Utara, Lengkap Penjelasannya” yang dapat kami sampaikan. Artikel ini dikutip dari buku “Selayang Pandang Maluku Utara : Ir. Nugroho Yuananto“. Baca juga artikel kebudayaan Indonesia menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.