Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat, Lengkap Penjelasannya
Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah provinsi yang terdiri dari dua pulau besar, yaitu Lombok dan Sumbawa, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. NTB kaya akan budaya karena kemunculan beragam suku, seperti suku Sasak di Lombok, suku Samawa (Sumbawa), dan suku Mbojo (Bima). Perbedaan etnis ini menjadikan pakaian adat NTB sangat variatif dan sarat makna filosofis.
Pakaian adat Nusa Tenggara Barat tidak hanya menjadi penutup tubuh, melainkan juga simbol identitas, status sosial, dan kearifan lokal.
Sejarah Singkat Pakaian Adat NTB
NTB sejak dahulu merupakan wilayah strategis dalam jalur perdagangan laut. Hal ini membuat kebudayaannya dipengaruhi oleh budaya Jawa, Bali, Bugis, Makassar, hingga Arab.
- Di Lombok, budaya Sasak banyak dipengaruhi Hindu-Bali, lalu Islam dari Jawa.
- Di Sumbawa, budaya Samawa dan Mbojo lebih dekat dengan Bugis-Makassar, juga dipengaruhi Islam.
Pengaruh ini tercermin jelas dalam pakaian adat. Misalnya, busana pengantin Sasak mirip busana Bali dengan tambahan nuansa Islami, sementara busana Mbojo lebih menyerupai pakaian kerajaan Bugis.
Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat
Provinsi Nusa Tenggara Barat terdiri atas dua pulau besar, yaitu pulau Lombok dan pulau Sumbawa dihuni oleh beberapa suku bangsa. Suku bangsa mayoritas yang mendiami daerah tersebut adalah suku bangsa Sasak di pulau Lombok, suku bangsa Sumbawa (Semawa), dan Bima di pulau Sumbawa. Berikut ini ulasan pakaian adat dari beberapa suku yang mewakili pakaian adat daerah Nusa Tenggara Barat.
Jenis-Jenis Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat
1. Pakaian Adat Suku Sasak (Lombok)
Sebagian besar pakaian adat suku Sasak berasal dari kain tenun. Hal ini dikarenakan masyarakat Sasak sudah mengenal teknik menenun sejak abad ke-14 an. Corak hias pada kain tenun bermacam-macam. Corak hiasnya pada umumnya merupakan eksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi, seperti pohon mawar, burung, ular naga, dan tokoh pewayangan. Corak hias pada kain untuk perempuan berbeda dengan ragam hias pada kain untuk laki-laki.
Pakaian adat bagian atas untuk kaum perempuan berupa lamung (baju) berwarna hitam. Modelnya sederhana, yaitu selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat kemudian diberi “lubang leher” berbentuk segitiga. Pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek. Panjang kebaya sebatas pinggang. Untuk bagian bawah, perempuan Sasak memakai kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif tanaman. Untuk memperkuat kemben digunakan sabuk anteng (ikat pinggang). Kemudian dipakai aksesoris sebagai pelengkap penampilan berupa sengkong (anting-anting), teken ima (gelang tangan), dan teken nae (gelang kaki).
Pakaian adat laki-laki berupa klambi (baju) model kemeja berlengan pendek atau panjang yang dililitkan seputar pinggang, memanjang hingga sebatas betis. Pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Untuk penahan kereng (kain panjang) digunakan lilitan kain, yang berfungsi seperti ikat pinggang, yang disebut bebet. Dibagian kepala dikenakan ikat kepala, yang disebut sapu, yang biasanya berwarna hitam, dan kadang-kadang menggunakan kain batik.

Untuk pakaian pengantin, digunakan pakaian yang lebih banyak hiasannya. Pengantin wanita memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos, tetapi kadang diberi hiasan pinggiran bajunya. Untuk bagian bawah dikenakan kereng (kain panjang), yang umumnya dibuat dari kain songket. Sebagai pelengkap penampilan digunakan kancing baju (buak tongkong) emas, kalung emas, ikat pinggang (gendit/ pending) emas, gelang tangan (teken), cincin (ali-ali), dan gelang kaki (teken nae).
Pengantin pria mengenakan klambi yang bahannya sama dengan pengantin wanita. Bagian atas berupa jas tertutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya untuk mempermudah menyelipkan keris. Bagian bawah menggunakan kereng (kain panjang), yang terbuat dari kain songket yang bermotif khas lombok. Kemudian ditambah dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Bagian kepala memakai sapu (ikat kepala atau destar) yang juga terbuat dari kain songket dan sering diberi hiasan keemasan yang sering diselipkan pada ikat sapu bagian depan. Dibagian punggung diselipkan keris panjang.
a. Pakaian Adat Pria Sasak
Pria Sasak biasanya memakai:
- Sapuk : ikat kepala berbentuk segitiga yang dililit di kepala, melambangkan kejantanannya.
- Baju adat : berupa baju berlengan panjang dengan warna gelap, dipadukan dengan kain tenun khas Lombok.
- Dodot/Pelong : kain songket yang dipakai menutupi pinggang hingga lutut.
- Keris : diselipkan di pinggang sebagai lambang keberanian.
b. Pakaian Adat Wanita Sasak
Wanita Sasak mengenakan pakaian yang lebih anggun, biasanya berupa:
- Lambung : kebaya hitam tanpa lengan, dipadukan dengan kain songket.
- Kain songket : tenun khas Lombok dengan motif emas dan perak.
- Selendang : dipakai di bahu sebagai pelengkap.
- Sanggul : rambut digelung rapi, dekorasi bunga atau hiasan emas.
Makna Filosofis
- Warna hitam melambangkan kesederhanaan dan keteguhan hati.
- Tenun songket menjadi simbol keuletan perempuan Sasak dalam menjaga tradisi.
- Keris adalah lambang kehormatan dan perlindungan keluarga.
2. Pakaian Adat Suku Samawa (Sumbawa)
Masyarakat asli pulau Sumbawa terkenal dengan kain songketnya. Pada umumnya kain singket tersebut menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Kain selungka misalnya, merupakan songket yang menggunakan benang emas dan perak. Selain kain selungka, ada juga mbalipida, yaitu kain tenun yang bermotif kotak-kotak. Ciri khasnya bentuk stilasi motif fllora untuk kain perempuan dan motif fauna atau manusia untuk kain laki-laki.
Pakaian adat wanita Sumbawa berupa lamung pene untuk bagian atas dan tembe lompa untuk bagian bawah. Lamung pene merupakan baju sejenis kebaya berlengan pendek dari kain halus, sedangkan tembelompa merupakan kain sarung bermotif kotak-kotak yang biasanya berupa kain songket yang dipakai sebatas mata kaki, yang disebut krealang. Sebagai pelengkap pakaian digunakan ikat pinggang (pending) perak, sapu to’a (sejenis sapu tangan) yang disampirkan pada bahu kiri, kalung, bengkor troweh (hiasan telinga) dan gelang tangan. Para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung.
Sementara itu, kaum laki-laki Sumbawa mengenakan lamung, semacam jas tutup berlengan panjang dan saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan. Kemudian dihiasi dengan pabasa alang, semacam selendang songket, berukuran agak lebar dibanding selendang biasa yang berfungsi sebagai dodot. Di bagian kepala memakai ikat kepala (sapu) yang terbuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Bihul ikata sapu pada kening ada di bagian belakang kepala dan sudut sapu dipasang tegak di bagian depan kepala hingga depan kepala sehingga tampak tegak meruncing.

Pakaian pengantin suku Sumbawa agak berbeda dengan pakaian adatnya. Untuk pakaian atas, pengantin wanita golongan bangsawan memakai lamung (naju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi. Baju tersebut terbuat dari kain halus dan berhias sulaman emas yang berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Kemudian di bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam sapu tangan yang dihiasi motif dedaunan dari benang perak atau emas. Untuk pakaian bawahnya, dikenakan tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek) yang juga dihiasi cepa yang dipakai secara bertumpu.
Di bagian kepala dipakai sua, yaitu hiasan kepala yang dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Perhiasan yang dipakai berupa gelang kanan (ponto atau kelaru), kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang yang disebut sisin kuku, sebagai alas kaki digunakan selop.
Pengantin pria mengenakan gadu, yaitu baju berlengan panjang warna hitam dan berhiaskan cepa emas. Selempang kain yang terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga disilangkan di atas baju. Kain ini disebut simbangan. Untuk pakaian bawah, dikenakan saluar celana panjang berwarna hitam yang dihias pada pinggir kaki celananya. Kemudian celana dipadu dengan tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah yang dihiasi dengan cepa emas yang agak besar. Untuk menahan tope digunakan ikat pinggang (pending) emas.
Bagian kepala ditutup dengan mahkota yang terbuat dari kain yang dilipat-lipat dan dibentuk seperti kipas serta dihiasi cepa emas. Mahkota tersebut dinamakan pasigar. Kemudian sebilah keris diselipkan pada ikat pinggang bagian depan badan.
a. Pakaian Adat Pria Samawa
Disebut juga Pakaian Pegon , terdiri dari:
- Baju Pegon : baju panjang seperti jas, dipadukan dengan celana longgar.
- Kain Sambolo : kain tenun yang dililitkan di pinggang.
- Sapuk : ikat kepala dengan motif khas Sumbawa.
- Senjata tradisional : pedang atau keris sebagai simbol keberanian.
b. Pakaian Adat Wanita Samawa
Wanita Samawa mengenakan busana yang disebut Baju Kebaya Sumbawa , berupa:
- Kebaya panjang dari kain halus.
- Kain songket Sumbawa dengan motif emas.
- Perhiasan berupa kalung, gelang, dan hiasan kepala dari emas.
Makna Filosofis
- Songket emas melambangkan kemakmuran.
- Kebaya panjang menunjukkan kesopanan.
- Perhiasan emas menandakan status sosial tinggi.
3. Pakaian Adat Suku Mbojo (Bima)
Pakaian adat suku Bima berupa baju poro, yaitu baju yang terbuat dari kain tipis, tidak tembus pandang. Baju ini biasanya berwarna hitam, biru tua, cokelat tua, dan ungu. Pakaian bawahnya berupa sarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Sebagai aksesorisnya antara lain gelang tangan dan anting-anting.
Kaum pria mengenakan kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang. Kemeja tersebut biasanya berwarna hitam, putih atau warna-warna cerah yang lain. Kemeja tersebut dipadu dengan sarung pelekat, tembem kafa, mbali pida. Di pinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Khusus pria dewasa biasanya menyelipkan pisau mone (pisau khas bima) pada salampe di bagian depan badan.
a. Pakaian Adat Pria Mbojo
Disebut Pakaian Rimpu Mpida , terdiri dari:
- Baju dan celana panjang dari kain katun.
- Ikat kepala (Sapu Bima) sebagai identitas laki-laki Bima.
- Sarung tenun Bima dililitkan di pinggang.
- Keris sebagai perlengkapan wajib.
b. Pakaian Adat Wanita Mbojo
Wanita Bima terkenal dengan busana khas Rimpu , yaitu cara memakai sarung tenun sebagai penutup tubuh.
- Rimpu Mpida : rimpu untuk gadis, menutup seluruh tubuh kecuali wajah.
- Rimpu Colo : rimpu untuk wanita yang sudah menikah, menutup tubuh dan hanya menampilkan mata.
Makna Filosofis
- Rimpu merupakan lambang kesopanan dan pengaruh Islam yang kuat di Bima.
- Sarung tenun Bima melambangkan kemandirian perempuan dalam berkarya.

4. Busana Pernikahan Adat NTB
Setiap suku memiliki busana pengantin khas:
- Pengantin Sasak : memakai baju celepot untuk pria (baju adat dengan keris), dan kebaya lambung serta songket mewah untuk wanita.
- Pengantin Samawa : memakai busana pegon dan kebaya panjang dengan songket emas.
- Pengantin Mbojo : pengantin wanita memakai rimpu khusus berwarna cerah, sementara pria memakai pakaian bangsawan lengkap dengan keris.
Pakaian pengantin suku Bima hampir sama dengan pakaian adatnya. Mempelai wanita memakai bjau poro rante yang terbuat dari kain halus warna merah dan dihiasi dengan cepa benang emas diseluruh permukaan baju. Kemudian baju tersebut dipadu dengan sarung songket (tembe songke) dan ikat pinggang (slepe) yang berwarna keemasan. Pasapu (sapu tangan) dari kain sutra bersulam benang perak dipegang di tangan kanan. Rambutnya disanggul dan dihiasi dengan keraba. Keraba yang terbuat dari gabah (bulir padi yang belum dikupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak hingga mekar dan tampak warna putih berasnya secara dominan. Keraba tersebut ditempel pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya mencolok di atas rambut. Tatanan rambut yang dihiasi keraba tersebut disebut wange. Aksesoris lain seperti bangka dondo (anting-anting panjang) dan ponto (gelang tangan) juga berwarna keemasan.
Sementara itu, mempelai laki-laki mengenakan pasagi, yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama. Kain tersebut dihiasi dengan cepa dan sulaman benang emas. Siki (kain songket atau tembe songke) dikenakan sebatas lutut, seperti memakai sarung. Untuk menakar siki digunakan baba, yaitu kain yang berukuran lebih lebar dari ikat pinggang biasa. Baba berfungsi untuk menyelipkan keris. Di atas baba diselipkan selepe mone, yaitu ikat pinggang yang terbuat dari logam keemasan. Sebuah keris, yang pada hulunya diikatkan pada baba. Pakaian pengantin pria ini juga dilengkapi dengan karoro, yaitu semacam jubah hitam yang berhais cepa berwarna keemasan dan mahkota yang disebut siga.
Fungsi Pakaian Adat NTB
- Upacara Pernikahan
Digunakan untuk menandai sakralnya pernikahan adat. - Upacara Adat dan Keagamaan
misalnya acara khitanan, panen raya, atau pesta rakyat. - Simbol Status Sosial
Pakaian dengan songket emas biasanya hanya boleh dikenakan keluarga bangsawan. - Kesenian Tradisional
Digunakan dalam tarian adat seperti Tari Gendang Beleq (Lombok) atau Tari Buja Kadanda (Sumbawa).
Makna Filosofis Pakaian Adat NTB
- Keterikatan dengan Agama
Rimpu di Bima adalah simbol penerimaan Islam sebagai pedoman hidup. - Kesopanan dan Kehormatan
Kebaya panjang dan kain songket menandakan kesopanan perempuan. - Keberanian dan Kejantanan
Keris atau pedang dalam pakaian pria melambangkan tanggung jawab melindungi keluarga. - Kemandirian Perempuan
Tenun songket Sasak, Sumbawa, dan Bima menjadi bukti peran perempuan dalam ekonomi keluarga.
Perbedaan Pakaian Adat di Tiga Suku NTB
| Suku | Pakaian Pria | Pakaian Wanita | Ciri Khas |
|---|---|---|---|
| Sasak (Lombok) | Baju adat, sapuk, dodot, keris | Kebaya lambung, songket, selendang | Motif songket Lombok, warna hitam |
| Samawa (Sumbawa) | Baju Pegon, kain sambolo, sapuk | Kebaya panjang, songket emas | Pegon mirip jas Eropa, songket emas |
| Mbojo (Bima) | Baju rimpu mpida, sapu Bima, sarung | Rimpu mpida/colo dari sarung tenun | Rimpu sebagai simbol Islam |
Pakaian Adat NTB di Era Modern
- Busana Kontemporer
Desainer NTB mengadaptasi motif songket ke busana pesta modern. - Festival Budaya
Setiap tahun, Festival Rimpu di Bima dan Festival Bau Nyale di Lombok menampilkan pakaian adat. - Identitas Daerah
Pegawai pemerintah di Lombok dan Bima sering diwajibkan memakai kain tenun lokal pada hari tertentu. - Pariwisata
Wisatawan asing sangat tertarik membeli songket Lombok dan tenun Bima sebagai cendera mata.
Pakaian adat Nusa Tenggara Barat mencerminkan kekayaan budaya tiga suku utama: Sasak, Samawa, dan Mbojo. Setiap pakaian adat tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna tentang kehormatan, kesopanan, keberanian, dan identitas religius masyarakat NTB.
Di era modern, lestarikan pakaian adat NTB sangat penting agar generasi muda tetap bangga terhadap budaya leluhur. Songket Lombok, kebaya Samawa, dan rimpu Bima bukan sekadar busana, tetapi juga cermin jati diri dan warisan budaya yang harus dijaga lintas generasi .
Baca juga:
34 Pakaian Adat Indonesia Lengkap Gambar, Nama, dan Daerahnya
Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur, Lengkap Penjelasannya
Pakaian Adat Maluku, Lengkap Penjelasannya
Demikian pembahasan tentang “Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat, Lengkap Penjelasannya” yang dapat kami sampaikan. Artikel ini dikutip dari buku “Selayang Pandang Nusa Tenggara Barat : Erna Dwi P, S. Pd“. Baca juga artikel kebudayaan Indonesia menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.
