Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keberagaman budaya sangat kaya. Wilayah ini terdiri dari berbagai suku dan subkultur, mulai dari masyarakat Mataraman (yang dekat dengan budaya Jawa Tengah dan Yogyakarta), Arek Surabaya (perkotaannya yang dinamis), hingga Madura yang punya karakteristik khas. Keanekaragaman budaya ini tercermin pula dalam pakaian adat Jawa Timur.

Berbeda dengan daerah Jawa Tengah yang cenderung halus dan klasik, busana adat Jawa Timur memiliki gaya yang lebih tegas, sederhana, tetapi tetap sarat makna. Pakaian adat di Jawa Timur bukan hanya sekadar penutup tubuh, melainkan juga simbol status sosial, identitas budaya, dan filosofi kehidupan masyarakatnya.

Sejarah Pakaian Adat Jawa Timur

Pakaian adat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh Kerajaan Majapahit (1293–1527) yang pernah menjadi pusat peradaban besar di Nusantara. Setelah Majapahit runtuh, budaya Jawa Timur terbelah ke dalam dua corak besar:

  1. Budaya Mataraman – wilayah barat Jawa Timur (Madiun, Kediri, Ngawi, dll.) yang lebih dekat dengan tradisi Jawa Tengah.
  2. Budaya Arek – wilayah Surabaya, Malang, Gresik, dan sekitarnya, yang lebih egaliter, sederhana, dan keras.
  3. Budaya Madura – di Pulau Madura dan pesisir utara, dengan pakaian khas berbeda yang lebih mencolok.

Dari pengaruh sejarah dan budaya ini, lahirlah beberapa jenis pakaian adat Jawa Timur yang kita kenal sekarang.

Pakaian Adat Jawa Timur

Masyarakat Jawa Timur memiliki pola dasar pakaian sehari-hari. Secara umum pakaian adat sehari-hari untuk kaum pria, hampir seluruh daerah di Jawa Timur memakai celana model kombor (gomboran), yaitu celana kolor longgar dengan tinggi di atas mata kaki dan sarung yang dikenakan dengan berbagai cara. Untuk kaum wanita lebih, banyak mengenakan sarung batik dibanding dengan kain wiron. Perbadaanya terletak pada cara pemakaiannya. Ada yang dilipat dibagian pinggang, ada yang dipakai semata kaki, dan ada pula yang di atas mata kaki.

pakaian adat daerah jawa timur

Pakaian Adat Madura Jawa Timur

Dari berbagai keragaman pakaian adat yang ada di Jawa Timur, pakaian-pakaian adat Jawa Timur yang khas antara lain dari daerah Madura dan Tengger. Kebudayaan Jawa sangat berpengaruh dalam berbagai  segi kehidupan masyarakat suku bangsa Madura. Oleh karena itu, jenis dan bentuk pakaian adatnya pun memiliki kesamaan dengan pakaian dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa.

Pakaian adat Jawa Timur khas Madura pada umumnya, yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam di dalamnya, lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. Pakaian yang terdiri dari baju pesa’an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan, baik sebagai pakaian sehari-hari ataupun sebagai pakaian resmi. Baju pesa’an, celana gomboran, dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara pemakaiannya. baju pesa’an dan kaos oblong warna putih, dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasanya dikenakan oleh kalangan pedagang kecil. Para nelayan umumnya hanya mengenakan celana gomboran dan kaos oblong. 

Baju adat madura pesa’an warna hitam melambangkan keberanian. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Garis-garis tegas merah, putih, atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun menggambarkan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat, dalam menghadapi segala hal.

Sikap keberanian dan keterbukaan orang Madura dilambangkan dalam bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna mencolok dengan sabuk katemang, ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai.

Kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. Tutup kepala disebut odheng. Odheng peredhan dengan motif storjan, bera’ songay atau toh biru digunakan sehari-hari. Perlengkapan pakaian adat madura lainnya adalah sap osap (sapu tangan), jam saaku, jepit kain, stagen, sabuk katemang, dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin gelang akar (gelang dari akar bahar). Sebum dhungket atau tongkat termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa.

Rasughan totop warna hitam umumnya digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota, bermotif modang, dulcendul, garik atau jingga untuk menghadiri acara resmi. Derajat kebangsawanan seseorang ditunjukkan dengan bentuk dan cara memakai odheng. Semakin tinggi kelopak odheng tongkosan, semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Semakin miring kelopaknya, maka derajat kebangsawanan semakin rendah.

Kaum wanita Madura umumnya memakai kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. Ciri khas kebaya Madura adalah menggunakan kutang polos dengan warna mencolok yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang dan menerawang.

Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura digunakan bersama sarung batik bermotif tumpal. Akan tetapi, ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan, storjan, atau lasem. Untuk penguat kain digunakan odhet. Odhet adalah semacam stagen Jawa, terbuat daritenunan bermotif polos, dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1,5 meter. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan, yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit.

pakaian adat Madura

Perhiasan menjadi pelengkap yang utama bagi pakaian adat kaum wanitanya. Hiasan rambut berupa cukur sisir dan cucuk dinar, keduanya terbuat dari emas. Bentuknya seperti busur. Cucuk sisir biasanya terdiri atas untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Adapun cucuk dinar, terdiri atas beberapa keping mata uang dollar. Rambut wanita Madura biasanya disisir ke belakang ,kemudian digelung sendhal. Perhiasan lain yang umumnya digunakan sebagai kelengkapan pakaian adat  adalah anteng atau senthar penthol yang terbuat dari emas, bermotif polos dengan bentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga.

Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar atau bunga matahari. Sepasang gelang emas di tangan kanan  dan kiri dengan motif tebu saeres, berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang yang dikenakan sebagai hiasan jari.

Sebagai pelengkap kebaya rancongan, digunakan peniti dinar renteng, terbuat dari emas dan bermotif polos. Salah satu perhiasan yang unik yang dikenakan wanita Madura adalah penggel. Penggel adalah hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kanan dan kiri.

Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mamakai kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Alas kakinya berupa selop tutup. Bahan kebaya biasanya beludru, berwarna gelap dan tidak bermotif. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas.

Rambut wanita juga digelung malang, di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat, digunakan gelung mager sereh. Bentuknya sama dengan gelung malang, tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari, dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek, yaitu hiasan dari bunga-bungaan.

Tata rias wanita madura juga unik. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan, kiri, atau dahi. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. Mata dihiasidengan celak arab, sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan, berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina.

Pakaian Adat Tengger Jawa Timur

Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah pada cara mereka memakai sarung yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin. Terdapat tujuh cara bersarung yang mereka kenal, antara lain sebagai berikut.

1. Kakawung

Mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan bagian kedua ujungnya diikat jadi satu. Cara ini digunakan supaya bebas bergerak pada waktu mengambil air atau pergi ke pasar.

2. Sesembong

Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. Cara ini dilakukan untuk aktifitas yang memerlukan tenaga yang besar.

3. Sempetan

Ujung sarung dilipat sampai ke garis pinggang. Biasanya cara ini dilakukan ketika orang Tengger bertamu.

4. Kekemul

Orang tengger menggunakan cara ini pada saat sedang bersantai dan sekedar jalan-jalan. Setelah disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutup bagian kedua tangannya, kemudian digantungkan ke pundak.

5. Sengkletan

Kain sarung cukup disarungkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada agar terlihat rapi pada saat bepergian.

6. Kekodong

Cara bersarung ini sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat-tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala sehingga yang terlihat hanya mata saja.

7. Sampiran

kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Cara ini biasanya dikenakan oleh anak-anak muda Tengger,

pakaian adat suku tengger

Masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan, tetapi juga berhubungan dengan alam. Dua upacara besar yang dilakukan oleh masyarakat Tengger adalah upacara adat Kasodo dan Karo. Kedudukan seorang dukun memegang peranan penting dalam masyarakat Tengger. Pakaian yang dikenakan oleh seorang dukun, yaitu baju anta kusuma atau rasukan dukun, lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen, genta, dan talam. Kelengkapan pakaiannya adalah ikat kepala atau udeng batik, baju warna putih, jas tutup warna gelap, jarik (kain) batik yang dibebatkan, celana panjang warna gelap, dan selempang panjang warna hitam batikan.

Jenis-Jenis Pakaian Adat Jawa Timur

1. Pakaian Adat Mataraman

Pakaian adat Mataraman sangat mirip dengan Jawa Tengah dan Yogyakarta karena pengaruh budaya Mataram Islam.

  • Pria
    • Memakai beskap (jas Jawa) berwarna gelap.
    • Jarik batik dililit di pinggang.
    • Blangkon gaya Jawa Timur, berbeda dengan Jogja/Solo karena lebih sederhana.
    • Dilengkapi keris di bagian belakang sebagai simbol kejantanan.
  • Wanita
    • Mengenakan kebaya sederhana dengan kain jarik batik.
    • Rambut disanggul (konde) dengan hiasan bunga.
    • Kadang dilengkapi perhiasan emas sederhana.

Filosofi pakaian ini adalah kesopanan, tata krama, dan keluhuran budi yang sangat dijunjung dalam budaya Jawa.

2. Pakaian Adat Arek (Surabaya dan Sekitarnya)

Pakaian adat Arek jauh lebih sederhana dibanding Mataraman. Busana ini mencerminkan masyarakat pesisir yang keras, lugas, tetapi egaliter.

  • Pria
    • Baju putih lengan panjang atau kadang hitam.
    • Celana panjang hitam.
    • Kain batik yang diikat di pinggang.
    • Penutup kepala berupa ikat kepala (udeng).
    • Kadang membawa keris kecil atau celurit.
  • Wanita
    • Kebaya sederhana berbahan katun tipis.
    • Jarik batik dengan motif khas pesisiran.
    • Rambut disanggul tanpa banyak hiasan.

Kesederhanaan ini mencerminkan karakter masyarakat Surabaya yang dikenal blak-blakan, terbuka, dan penuh semangat gotong royong.

3. Pakaian Adat Madura

Salah satu pakaian adat paling ikonik di Jawa Timur adalah busana Madura, yang memiliki warna mencolok dan berbeda dari budaya Jawa halus.

  • Pria
    • Baju Sakera: kaos bergaris merah-putih (simbol keberanian).
    • Celana hitam longgar disebut celana komprang.
    • Ikat pinggang lebar (sabuk) warna merah.
    • Udeng hitam di kepala.
    • Senjata khas: celurit.
  • Wanita
    • Kebaya berwarna cerah (merah, hijau, kuning).
    • Kain batik bermotif khas Madura dengan warna kontras.
    • Sanggul rambut dihiasi bunga.
    • Perhiasan emas cukup mencolok, menunjukkan keberanian dan kepercayaan diri.

Busana Madura mencerminkan karakter tegas, berani, dan penuh semangat masyarakatnya.

4. Pakaian Pengantin Jawa Timur

Pakaian pengantin adat Jawa Timur sangat beragam tergantung daerah. Dua jenis yang paling dikenal adalah:

  1. Pengantin Gaya Mataraman
    • Mirip dengan pengantin Jawa Tengah: pria memakai beskap beludru hitam, jarik batik, keris, dan blangkon; wanita memakai kebaya beludru hitam berhias emas, kain batik, dan riasan paes di dahi.
  2. Pengantin Gaya Madura
    • Sangat mencolok: pengantin pria memakai baju Sakera lengkap, sedangkan pengantin wanita memakai kebaya warna terang dengan kain batik khas Madura dan perhiasan emas.
    • Simbol keberanian dan kebahagiaan rumah tangga.

Motif Batik Jawa Timur dalam Pakaian Adat

Batik Jawa Timur berbeda dengan batik Yogyakarta atau Solo yang cenderung kalem. Batik Jawa Timur dikenal lebih berani dalam warna dan motif.

Beberapa motif batik khas Jawa Timur:

  1. Batik Madura – Warna merah, kuning, hijau, dan biru yang mencolok.
  2. Batik Banyuwangi (Gajah Oling) – Motif seperti belalai gajah, melambangkan keberanian.
  3. Batik Sidoarjo – Motif burung merak dan ikan bandeng.
  4. Batik Malangan – Warna tegas, banyak memakai hitam, hijau, dan merah.

Pemilihan batik ini disesuaikan dengan acara, status sosial, dan keperluan tertentu.

Filosofi Pakaian Adat Jawa Timur

Pakaian adat Jawa Timur bukan hanya busana, tetapi juga sarat filosofi:

  • Baju Sakera Madura – Garis merah-putih melambangkan keberanian dan patriotisme.
  • Beskap Mataraman – Warna gelap berarti kewibawaan dan keteguhan hati.
  • Kebaya – Simbol kelembutan wanita Jawa.
  • Keris & Celurit – Simbol harga diri, keberanian, dan tanggung jawab pria.
  • Batik – Setiap motif membawa doa dan harapan, misalnya batik Gajah Oling untuk keberanian, batik Sido Mukti untuk kebahagiaan.

Fungsi Pakaian Adat Jawa Timur

  1. Upacara Pernikahan – Sebagai busana utama pengantin sesuai daerah masing-masing.
  2. Upacara Adat & Keraton – Masih digunakan dalam acara budaya Mataraman.
  3. Keseharian Tradisional – Dahulu dipakai sehari-hari, kini hanya di acara adat.
  4. Pertunjukan Seni – Tari tradisional dan ludruk sering menampilkan pakaian adat.
  5. Identitas Budaya – Menjadi ciri khas Jawa Timur di tingkat nasional.

Perbedaan Pakaian Adat Jawa Timur dan Jawa Tengah

  • Corak & Warna: Jawa Tengah halus dan kalem, Jawa Timur lebih tegas dan kontras.
  • Batik: Batik Jogja-Solo dominan cokelat sogan, batik Jatim lebih berwarna cerah.
  • Blangkon: Jawa Timur lebih sederhana, tidak serumit Jogja/Solo.
  • Busana Madura: Jauh lebih mencolok dan berbeda dari gaya Jawa halus.

Perkembangan Pakaian Adat Jawa Timur di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, pakaian adat Jawa Timur mengalami transformasi.

  1. Dalam Pernikahan – Masih banyak digunakan, meski sering dimodifikasi agar lebih praktis.
  2. Fashion Show – Desainer muda mengolah batik Madura dan Banyuwangi ke dalam busana modern.
  3. Festival Budaya – Event seperti Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi selalu menampilkan busana adat.
  4. Pendidikan – Beberapa sekolah mewajibkan murid memakai busana adat pada hari tertentu.

Pakaian adat Jawa Timur mencerminkan keberagaman budaya masyarakatnya. Dari gaya Mataraman yang halus, Arek yang lugas, hingga Madura yang berani, semuanya menunjukkan kekayaan tradisi yang patut dibanggakan.

Setiap busana memiliki makna filosofis mendalam: beskap melambangkan kewibawaan, kebaya melambangkan keanggunan, baju Sakera melambangkan keberanian, dan batik dengan motif khas menyimpan doa serta harapan.

Di tengah arus modernisasi, pelestarian pakaian adat Jawa Timur menjadi penting agar generasi muda tetap mengenal dan menghargai warisan budaya leluhurnya. Dengan demikian, pakaian adat tidak hanya menjadi kostum dalam acara khusus, tetapi juga simbol identitas dan jati diri masyarakat Jawa Timur yang kaya budaya, berani, dan berkarakter.

Baca juga:
34 Pakaian Adat Indonesia Lengkap Gambar, Nama, dan Daerahnya
Pakaian Adat Jawa Tengah Lengkap, Gambar dan Penjelasannya
Pakaian Adat Yogyakarta, Lengkap Gambar dan Penjelasannya

Demikain pembahasan tentang “Pakaian Adat Jawa Timur Lengkap, Gambar dan Penjelasannya” yang dapat kami sampaikan. Artikel ini dikutip dari buku “Selayang Pandang Jawa Timur : M. Purwati“. Baca juga artikel kebudayaan Indonesia menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.