Pakaian Adat Betawi (DKI Jakarta), Lengkap Gambar dan Penjelasanya
Setiap provinsi pasti mempunyai pakaian adat khas daerahnya masing-masing. Pakaian adat biasanya dikenakan pada saat adanya penyelenggaraan upacara tertentu. Disebut pakaian adat sebab ciri-ciri yang ada maupun tatacara dalam mengenakan sangat khas. Upacara adat pengantin, adat keagamaan, dan lain-lainnya biasanya dilengkapi dengan pakaian adat. Ada pakaian adat untuk kaum laki-laki dan ada juga pakaian adat untuk kaum perempuan. Pakaian adat daerah Provinsi DKI Jakarta adalah Betawi. Ini sesuai dengan nama suku bangsa asli yang mendiami wilayah DKI Jakarta.
Pakaian Adat Betawi
Jakarta sering dikenal sebagai kota metropolitan yang modern, tetapi di balik hiruk-pikuk gedung pencakar langitnya, terdapat warisan budaya yang kuat dari suku asli daerah ini, yaitu suku Betawi. Salah satu warisan budaya paling menonjol adalah pakaian adat Betawi.
Pakaian adat Betawi tidak hanya digunakan sebagai pakaian seremonial, tetapi juga sebagai simbol keberagaman budaya yang membentuk identitas masyarakat Betawi. Pasalnya, Betawi merupakan hasil akulturasi berbagai etnis: Melayu, Arab, Tionghoa, India, hingga Belanda. Hal ini tercermin dalam pakaian adat mereka yang kaya akan corak, warna, dan makna filosofis.

Sejarah dan Latar Belakang Pakaian Adat Betawi
Suku Betawi terbentuk dari perpaduan berbagai etnis yang tinggal di Batavia (nama lama Jakarta) sejak abad ke-17. Masyarakatnya merupakan hasil kawin-mawin antara orang Melayu, Sunda, Jawa, Arab, Tionghoa, India, bahkan Portugis. Karena itu, pakaian adat Betawi memiliki ciri khas yang berbeda dibanding suku lain di Indonesia.
- Pengaruh Arab: terlihat dari penggunaan jubah dan sorban.
- Pengaruh Tionghoa: terlihat pada kebaya encim dengan motif bunga.
- Pengaruh Melayu dan Jawa: terlihat pada sarung, batik, serta ikat kepala.
- Pengaruh Barat (Belanda): terlihat dari jas dan celana panjang.
Paduan inilah yang membuat pakaian adat Betawi begitu beragam dan unik.
Jenis Pakaian Adat Betawi
Pakaian adat Betawi terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan fungsi dan pemakainya.
1. Pakaian Adat Pria
Pakaian adat pria Betawi dikenal sederhana tetapi tetap mencerminkan wibawa. Elemen utama pakaian pria meliputi:
- Baju Sadariah
- Baju koko sederhana dengan kerah tegak.
- Biasanya berwarna putih polos atau warna netral.
- Celana Batik atau Celana Panjang
- Celana batik dipakai bersama sadariah.
- Celana panjang biasanya polos dengan warna gelap.
- Sarung Selendang
- Sarung khas Betawi dililitkan di pinggang atau disampirkan di bahu.
- Menjadi ciri khas yang membedakan dengan baju koko biasa.
- Iket Kepala atau Pecis
- Pria Betawi biasanya memakai peci hitam.
- Alternatif lain adalah iket kepala bermotif batik.
- Pakaian Ujung Serong
- Jenis pakaian adat resmi pria Betawi.
- Terdiri dari jas tertutup dengan kerah berdiri, celana panjang, dan kain batik yang dililitkan menyamping (serong).
- Dipakai pada acara pernikahan atau upacara adat.
Perlengkapan pakaian adat pria Betawi;
- Liskol atau penutup kepala.
- Jas tutup atau baju jas yang menutup leher.
- Celana panjang.
- Selendang lockan, selembar kain batik yang dilingkarkan pada bagian pinggang.
- Keris yang diselipkan pada bagian perut.
- Sepatu pantopel sebagai alas kaki.
2. Pakaian Adat Wanita
Busana wanita Betawi sangat dipengaruhi oleh budaya Tionghoa dan Melayu. Jenis-jenis utama meliputi:
- Kebaya Encim
- Busana khas wanita Betawi.
- Dipengaruhi budaya Tionghoa.
- Terbuat dari kain tipis dengan bordir bunga di bagian tepi.
- Dipadukan dengan kain batik Betawi bermotif geometri atau flora.
- Kerudung atau Selendang
- Digunakan sebagai penutup kepala.
- Ada juga yang memakai selendang tipis di bahu sebagai pelengkap.
- Pakaian Rias Pengantin
- Wanita pengantin memakai kebaya mewah dengan hiasan kepala yang disebut kembang goyang.
- Dipadukan dengan perhiasan emas, kalung, gelang, dan sanggul.
Perlengkapan pakaian adat wanita Betawi;
- Baju kabaya.
- Sanggul cepol, dengan hiasan ronce melati.
- Kerudung atau selendang panjang yang menutup kepala.
- Kain batik.
- Selop sebagai alas kaki.
Hiasan tambangan berupa anting-anting air seketel, gelang listring, dan gelang selendang mayang.
3. Pakaian Pengantin Betawi
Pakaian adat pengantin Betawi adalah yang paling meriah dan penuh makna. Ada dua tipe utama:
- Pengantin Wanita (Busana Putri Cina)
- Memakai kebaya panjang berwarna cerah.
- Dihiasi sanggul besar dengan ornamen emas.
- Bagian kepala dilengkapi kembang goyang dan hiasan bunga.
- Dipengaruhi gaya pengantin Tionghoa kuno.
- Pengantin Pria (Busana Dandanan Care Haji)
- Menggunakan jubah panjang dan penutup kepala sorban putih.
- Dipengaruhi budaya Arab.
- Simbol pria Betawi yang dianggap gagah dan berwibawa.
Perpaduan ini melambangkan harmoni dua budaya besar (Arab dan Tionghoa) yang melekat dalam masyarakat Betawi.

Disisi lain, pakaian dan tata rias pengantin Betawi sangat kaya akan pengaruh budaya lain, baik budaya asing maupun beberapa budaya suku bangsa yang ada di Indonesia. Budaya asing yang cukup kental terlihat mempengaruhi budaya Betawi adalah Arab (Islam), Cina, India, dan Belanda. Adapun kebudayaan suku bangsa lain yang tampak menonjol mempengaruhi adalah Sumatera atau Melayu, Jawa, Sunda, dan Bali.
Berbagai pengaruh dari kebudayaan luar/ asing tampak sebagai berikut.
1. Sorban, jubah panjang, dan celana panjang pada pengantin pria merupakan pengaruh dari kebudayaan Arab.
2. Siangko (penutup muka),tuaki(baju model bagian atas), dan rok panjang pada pengantin wanita merupakan pengaruh dari kebudayaan Cina.
3. Terompah (alas kaki) yang dikenakan pengantin pria dan wanita merupakan pengaruh dari kebudayaan Arab.
Masyarakat Betawi mengenal enam macam pakaian adat pengantin Betawi, yaitu;
1. Cara dandan Haji,
2. Cara model India,
3. Cara model Barat,
4. Cara model Jawa,
5. Cara model Sunda, dan
6. Cara model Melayu.
Pengantin pria dengan model pakaian dandanan Haji biasanya memakai tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. Penutup kepala ini mempunyai tinggi 15-20 cm dan dililitkan dengan sorban kain, warna putih gading atau kadang-kadang kuning. Di pinggir kiri alpia diberi untuaian bunga melati yang pada ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum bunga mawar merah.
Pengantin laki-laki dengan dandanan haji biasanya mengenakan jubah terbuka yang dihiasi dengan emas, dan manik-manik bermotif burung hong, bunga-bungaan, kubah masjid dan sebagainya. Sebelum memakai jubah, biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki. Selain itu pengantin laki-laki memakai selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran.
Untuk pengantin wanita, pakaiannya terkesan meriah. Tuaki adalah baju bagian atas yang dikenal memiliki dua model, yaitu model shanghai (Cina) dan model baju kurung (Melayu). Syarat utama tuaki berbahan polos dan memiliki hiasan yang bervariasi. Ciri khas model shanghai adalah berkrah tertutup, panjang sebatas pinggul. Tuaki berbentuk baju kurung, model seperti baju kurung Melayu pada umumnya.
Padanan tuaki adalah kun, yaitu rok melebar kebawah dengan panjang sampai ke mata kaki. Kun juga dihiasi benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. Untuk tuaki biasanya dipilih warna-warna cerah dari bahan satin atau beludru. Hal tersebut melambangkan sukacita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh keluarganya. Untuk hiasan penutup daada dan bahu, yaitu teratai. Hiasan ini terbuat dari beludru bertahtakan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. Teratai ini berjumlah delapan lembar kecil yang dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris.
Untuk tata rias kepala, rambut disanggul dengan model buatan atau konde cepol tanpa sasakan. Caranya dengan melilitkan secara berputar sehingga membentuk tiga tingkat lingkaran, yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Hiasan yang dipakai di kepala adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Siangko bercadar selalu berwarna emas dan dihiasi batu-batu permata. Panjang cadarnya 30 cm terbuat dari manik-manik. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. Selain itu ada tiga siangko lainnya yang dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. Di atas siangko bercadar diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bunga-bungaan yang dipenuhi permata.
Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah 10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah, juga dikenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. Kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah, yang wajib diturunkan dan diajarkan kepada anak keturunannya kelak. Kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kukuh, kuat seperti pohon kelapa, sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng, sejahtera, dan bahagia.
Hiasan burung hong lebih dikenal dengan sebutan kembang besar berjumlah empat yang melambangkan empat sahabat Rasullullah, Nabi Besar Muhammad, Saw. Satu lagi perhiasan kepala yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumpit telinga. Sebagai pelengkap, biasanya telinga pengantin dihiasi dengan sepasang kerabu. Kerabu merupakan perpaduan anting dan giwang. Di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa si gadis telah menjadi pengantin.
Pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. Gelang listring dan gelang selendang mayang serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan, pergelangan tangan, dan jari pengantin wanita. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek sebagai alas kaki dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manik-mamik atau mote.
4. Pakaian Anak-Anak
Pakaian adat anak-anak Betawi menyesuaikan dengan pakaian orang dewasa. Anak laki-laki memakai sadariah dan sarung, sedangkan anak perempuan memakai kebaya encim sederhana dengan kain batik.
Ciri Khas Pakaian Adat Betawi
- Warna Cerah
- Betawi suka warna mencolok seperti merah, kuning, hijau, dan biru.
- Warna melambangkan keceriaan masyarakat Betawi yang terbuka.
- Batik Betawi
- Motif batik khas, misalnya ondel-ondel, monas, kembang kelapa, dan burung hong.
- Digunakan pada bawahan pria maupun wanita.
- Perpaduan Budaya
- Busana pria dipengaruhi Arab.
- Busana wanita dipengaruhi Tionghoa.
- Sarung dan batik dari Jawa-Melayu.
Filosofi dan Makna Pakaian Adat Betawi
Pakaian adat Betawi sarat makna filosofis:
- Sadariah dan Sarung pada Pria
- Melambangkan kesederhanaan dan keimanan.
- Sarung menjadi identitas religius masyarakat Betawi.
- Kebaya Encim pada Wanita
- Simbol keanggunan, kelembutan, sekaligus pengaruh sejarah multikultural.
- Pengantin Betawi
- Busana pria (care haji) melambangkan pemimpin yang berwibawa.
- Busana wanita (putri Cina) melambangkan kemurnian dan keindahan.
- Perpaduannya menunjukkan harmonisasi dua budaya besar.
- Batik Betawi
- Motif ondel-ondel melambangkan pelindung dari roh jahat.
- Motif kembang kelapa melambangkan kesuburan dan harapan.
Fungsi Pakaian Adat Betawi
- Pernikahan Adat
- Digunakan dalam upacara pernikahan Betawi.
- Upacara Kebudayaan
- Acara Lebaran Betawi, perayaan HUT Jakarta, atau Festival Ondel-Ondel.
- Kehidupan Sehari-Hari Tradisional
- Dahulu sadariah dan kebaya encim dipakai sehari-hari, kini lebih sering dipakai pada acara khusus.
- Identitas Budaya Jakarta
- Menjadi ikon Betawi dalam pariwisata dan kesenian.
Perbedaan Pakaian Adat Betawi dengan Daerah Lain
- Dengan Jawa Barat (Sunda): Pakaian Sunda cenderung lebih sederhana dengan warna lembut, sedangkan Betawi cerah dan berwarna mencolok.
- Dengan Melayu: Sama-sama menggunakan sarung, tetapi Betawi lebih kaya pengaruh Tionghoa.
- Dengan Minang: Sama-sama punya hiasan kepala untuk wanita, tetapi Betawi menggunakan kembang goyang, sedangkan Minang memakai suntiang tinggi.
Perkembangan Pakaian Adat Betawi di Era Modern
Saat ini, pakaian adat Betawi terus berkembang:
- Kebaya Modern
- Desainer memodifikasi kebaya encim agar lebih praktis dan elegan.
- Batik Betawi Kontemporer
- Motif Betawi diaplikasikan pada gaun, kemeja, hingga busana kerja.
- Event Budaya dan Fashion Show
- Festival Betawi menampilkan variasi pakaian adat untuk menarik generasi muda.
- Pernikahan Modern
- Banyak pasangan tetap memilih busana pengantin Betawi untuk menonjolkan identitas budaya.
Baca juga:
34 Pakaian Adat Indonesia Lengkap Gambar, Nama, dan Daerahnya
Pakaian Adat Jawa Barat Lengkap, Gambar dan Penjelasannya
Pakaian Adat Banten Lengkap, Gambar dan Penjelasannya
Demikian pembahasan tentang “Pakaian Adat Betawi (DKI Jakarta), Lengkap Gambar dan Penjelasanya” yang dapat kami sampaikan. Artikel ini dikutip dari buku “Selayang Pandang DKI Jakarta : Moh. Rofii Adji Sayekti“. Baca juga artikel kebudayaan Indonesia menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.
