Dalam kesenian musik tradisional Jawa, gamelan menjadi salah satu bentuk ekspresi budaya yang paling kaya dan kompleks. Di balik bunyi indah dan harmoni instrumen gamelan, terdapat sistem musik yang sangat teratur dan penuh makna. Salah satu unsur penting dalam sistem ini adalah pathet .
Istilah ini sering terdengar di dunia karawitan, namun tidak semua orang memahami apa itu pathet dan bagaimana menggabungkannya dalam membentuk suasana dan makna sebuah gending (lagu gamelan).

Artikel ini akan membahas secara lengkap pengertian pathet, fungsi dan perpaduan dalam gamelan Jawa, jenis-jenis pathet, serta maknanya dalam konteks budaya dan spiritual masyarakat Jawa.

Pengertian Pathet

Secara sederhana, pathet dapat diartikan sebagai sistem pengaturan nada, rasa, dan suasana dalam musik gamelan Jawa.
Dalam konteks teori musik Barat, pathet kadang disejajarkan dengan konsep “mode” atau “tonal center”, tetapi sebenarnya memiliki dimensi yang jauh lebih luas karena mengandung nuansa rasa (emosional), waktu pertunjukan, dan konteks sosial-spiritual .

Menurut ahli karawitan Jawa seperti RL Hardjosubroto dan Rahayu Supanggah, pathet adalah pembatas penggunaan nada dan pola lagu tertentu dalam satu laras (tangga nada).
Artinya, pathet menentukan:

  • Nada-nada yang ditekankan (nada pokok),
  • Nada yang dihindari,
  • Cara berpindah antar nada,
  • Suasana atau rasa yang muncul dari gending tersebut.

Dengan kata lain, pathet bukan sekedar teori nada, melainkan juga jiwa dari komposisi gamelan itu sendiri.

Keberadaan dan peran pathet dalam musik gamelan Jawa sampai saat ini belum satu bahasa atau sepakat tentang makna dan fungsinya dalam bermain musik gamelan maupun penggarapan olah vokal tembang. Beberapa empu atau widyawan kebudayaan Jawa maupun asing memiliki pendapat tentang pengertian dan peran patet pada musik gamelan sebagai berikut:

Pengertian Pathet Menurut para Ahli

a. Ki Hajar Dewantara dalam buku Sari Swara I menjelaskan bahwa:

“Pathet itu menerangkan besar kecilnya dan rendah tingginya rakitan laras/tangganada. Tujuan penggunaan pathet agar supaya jangan sampai seseorang tidak sampai dalam menyanyikan sebuah lagu karena terlalu tinggi atau rendah suaranya.”

b. Raden Machjar Angga Koesoemadinata dalam buku Ilmu Seni Raras memeberikan penjelasan tentang pathet: “Pathet ialah penetapan tinggi raras dominant dan tonika dari suatu lagon (modi).”

c. R. Tejohadisumarto dalam buku mBombong Manah I berpendapat demikian: “Pathet itu kesesuaian tempat lelagon jika dibunyikan pada gamelan atau besar kecil atau tinggi rendah rakitan laras.”

d. F. Atmadarsana dalam bukunya Mardawa Swara menerangkan tentang pathet “Pathet itu menentukan kedudukan lagu dan membatasi naik turunnya suara.”

e. S. Padmosoekotjo dalam buku Ngengrengan Kasusastran Jawa II menjelaskan pathet sebagai berikut : “Pathet itu ukuran tinggi rendahnya gending. Pathet menentukan kesesuaian tempat gending dan membatasi naik turunnya penabuhan gamelan.”

f. DR. Mantle Hood dalam buku menulis : Javanese Gamelan in the World of Music menulis : “Gamelan Jawa menciptakan mode-mode/tangganada berdasarkan titilaras yang dimilikinya. Mode-mode/tangganada berdasarkan titilaras yang dimilikinya. Mode-mode/tangganada disebut pathet.”

g. Prof. DR. Poerbatjaraka pernah menulis dalam Majalah Bahasa dan Budaya yang diterbitkan oleh UI bulan April 1957 No.4 Th. V tentang pathet sebagai berikut:

Kata pathet = patut. Di Pathet = dipatut.

Penentuan pathet suatu lagu harus disesuaikan dengan kemampuan menjangkau wilayah nada, waktu pemakaian lagu dan sekaligus untuk mengatur tempo/kecepatan lagu.

Pembagian jumlah pathet dalam musik gamelan sebenarnya disesuaikan dipatut dengan siklus kehidupan manusia lahir, dewasa, mati. Oleh karena itu dalam pergelaran wayang kulit semalam suntuk dibagi menjadi 3 (tiga) episode talu, gara-gara dan pupuh.

Tiap episode tersebut menggunakan musik pengiring dengan pathet tertentu, yaitu :

1) Episode talu gendhing-gendhing menggunakan pathet 6 (nem) Tempo gendhing sedang/Andante sehingga mampu mendukung adegan-adegan awal ceritera/suasana tenang dan hening.

2) Episode gara-gara menggunakan gendhing-gendhing pathet 9 (Sanga) Tempo lagu meningkat agak cepat/allegretto/moderato, sehingga suasana ceria, humor, menyenangkan.

3) Episode pupuh menggunakan gendhing-gendhing pathet Manyura Tempo cepat-cepat sehingga suasana tergesa-gesa (cekat-ceket) sangat mewarnai episode akhir/babak akhir cerita.

Kesimpulan dari beberapa pendapat pakar-pakar musik gamelan maupun musik umum menunjukkan bahwa penggunaan pathet lebih menitikberatkan pada instrument art/seni gendhing. Penggunaan pathet dalam permainan gendhing sebenarnya penyanyi/ vokalis harus menyesuaikan/dibatasi oleh jumlah nada gamelan yang dipakai. Padahal kemampuan manusia untuk mencapai batas standar ambitus 11 sd 13 buah nada, sedangkan nada-nada yang tersedia pada gamelan laras slendro hanya 5 buah dan laras pelog 7 buah. Akibatnya sindhen dan penggerong sering menggunakan teknik falseto dalam mencapai nada tinggi. Bila Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa pathet sangat berguna dalam olah vokal/seni tembang karena beliau hanya menggunakan 5 (lima) nada yaitu do, re, mi, fa, sol (pentatonis). Dari susunan tangganada gamelan Slendro maupun laras pelog menunjukkan bahwa dalam menentukan pathet ternyata nada 1 (ji) dan 3 (lu) tidak pernah dipakai sebagai tonika (dasar nada).

Pararelisasi antara susunan tangganada gamelan laras slendro dan laras pelog dengan susunan tangganada pentatonis musik umum/barat adalah sebagai berikut:

1. Susunan Tangganada laras slendro:

tangga-nada-gamelan-slendro

*) Solmisasi ini untuk menyanyi, sehingga tinggi rendahnya do dapat disesuaikan kemampuan ambitus penyanyi.

2. Susunan Tangganada laras pelog:

tangga-nada-gamelan-pelog

Jadi seorang vokalis/penyanyi bila gamelan sebagai musik pengiring (accompaniment) mau tidak mau harus menyesuaikan suara gamelan. Penyanyi harus mendengarkan grambyangan laras serta pathet yang dipergunakan. Dan ini berbeda sekali bila penyanyi diiringi dengan alat musik barat. Penyanyi diberi kebebasan memilih nada dasar sesuai dengan kemampuan mencapai ambitus lagu yang akan dinyanyikan, musik menyesuaikan penyanyi. Alternatif nada dasar yang ditawarkan ada 12 buah nada, yaitu :

alternatif-nada-dasar-musik-gamelan

Hubungan Pathet dengan Laras Gamelan

Untuk memahami pathet, kita perlu mengenal dua sistem laras utama dalam gamelan Jawa, yaitu:

  1. Laras Slendro , yang terdiri dari lima nada berjarak relatif sama, dan
  2. Laras Pelog , yang memiliki tujuh nada dengan jarak yang tidak sama.

Dalam setiap laras tersebut terdapat beberapa jalur .

  • Pada Slendro terdapat tiga jalur utama: Slendro Nem , Slendro Sanga , dan Slendro Manyura .
  • Pada Pelog juga terdapat tiga pathet: Pelog Lima , Pelog Nem , dan Pelog Barang .

Setiap jalur memiliki karakteristik rasa dan waktu hiburan tertentu. Misalnya:

  • Pathet Nem biasanya menggambarkan suasana tenang, halus, dan sakral, cocok dimainkan pada awal pertunjukan atau malam hari.
  • Pathet Sanga cenderung gagah dan energik, sering digunakan untuk bagian tengah pementasan.
  • Pathet Manyura melambangkan kelapangan dan kematangan, biasanya dimainkan pada akhir pertunjukan, sebagai penutup yang penuh harmoni.

Fungsi dan Peran Pathet dalam Gamelan Jawa

  • Mengatur Struktur Musik

Pathet menentukan pola melodi, penggunaan nada, dan arah lagu . Setiap instrumen gamelan, seperti bonang, gender, saron, maupun rebab, mengikuti pola tertentu yang disesuaikan dengan pathet yang dimainkan.

  • Membangun Suasana dan Rasa (Rasa Karawitan)

Pathet sangat berpengaruh terhadap rasa musikal (rasa perasaan) yang ingin disampaikan oleh pengrawit (pemain gamelan). Misalnya, pathet Nem memberikan kesan khusyuk, sementara pathet Manyura menciptakan rasa lega dan bahagia.

  • Menentukan Urutan dalam Pertunjukan Wayang

Dalam pertunjukan wayang kulit , pathet juga menentukan urutan adegan dan perjalanan emosi cerita . Biasanya:

  • Awal pertunjukan menggunakan Slendro Nem ,
  • Bagian tengah dengan Slendro Sanga ,
  • Dan penutupnya memakai Slendro Manyura .

Urutan ini mencerminkan perjalanan batin manusia: dari lahir, perjuangan menghadapi kehidupan, hingga mencapai kematangan dan ketenangan jiwa.

  • Pedoman bagi Pengrawit dan Sindhen

Setiap pengrawit (pemain gamelan) dan sindhen (penyanyi Jawa) harus memahami pathet yang sedang dimainkan. Hal ini penting karena pathet menentukan nada dasar dan gaya cengkok (ornamen vokal) yang boleh atau tidak boleh digunakan.

Jenis-Jenis Pathet dan Karakteristiknya

A. Pathet dalam Laras Slendro

  1. Slendro Nem
    • Rasa: Tenang, sakral, teduh
    • Waktu: Malam hari
    • Contoh gending : Ladrang Wilujeng
    • Sering digunakan untuk pembukaan atau acara ritual.
  2. Slendro Sanga
    • Rasa: Semangat, heroik, tegas
    • Waktu: Tengah malam atau bagian tengah pertunjukan
    • Cocok untuk menggambarkan perjuangan dan konflik.
  3. Slendro Manyura
    • Rasa: Gembira, lapang, penuh harapan
    • Waktu: Menjelang pagi
    • Melambangkan penyelesaian, kebahagiaan, dan ketenangan batin.

B. Pathet dalam Laras Pelog

  1. Pelog Lima
    • Rasa: Halus, romantis
    • Waktu: Malam hari
    • Sering digunakan dalam tembang-tembang lembut dan meditatif.
  2. Pelog Nem
    • Rasa: Sedih, khidmat
    • Cocok untuk adegan introspektif atau penuh haru.
  3. Pelog Barang
    • Rasa: Cerah, megah
    • Biasanya dimainkan di akhir pertunjukan sebagai penutup yang gemilang.

Petunjuk Teknis Partitur Gamelan dalam Mengiringi Lagu

1. Apabila sebuah lagu diiringi gamelan

  • Melodi gamelan dilakukan oleh Saron Demung
  • Melodi tembang dilakukan oleh Saron Penerus
  • Melodi musik dilakukan oleh alat musik yang dipergunakan dengan catatan, alat musik harus disesuaikan dengan tinggi rendahnya gamelan.

Penyanyi/vokalis harus menyesuaikan dengan tinggi rendahnya gamelan. Dan apabila kurang sesuai biasanya penyanyi menggunakan suara falseto. Oleh karena itu dalam partiture tidak ditulis nada dasar lagu tetapi pathet Grambyangan pathet harus diperdengarkan dahulu.

Misalnya:

a. Gamelan Laras Slendro

1) Slendro Pathet 6 : 6 5 3 2

2) Slendro Pathet 9 : 2 1 6 5

3) Slendro Pathet Manyura : 3 2 1 6

b. Gamelan Laras Pelog

1) Pelog Pathet 6 : 6 5 3 2 ; 2 3 5 6 ; 6 5 3 2

2) Pelog Pathet Lima : 2 1 6 5 ; 5 6 1 2 ; 2 1 6 5

3) Pelog Pathet Barang : 3 2 7 6 ; 6 7 2 3 ; 3 2 7 6

Makna Filosofis Pathet dalam Budaya Jawa

Pathet tidak hanya berfungsi sebagai sistem musikal, tetapi juga mencerminkan pandangan hidup orang Jawa .
Urutan pathet sering dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup manusia :

  • Pathet Nem → masa kanak-kanak dan awal kehidupan (ketenangan dan kemurnian),
  • Pathet Sanga → masa dewasa dan perjuangan (semangat dan konflik),
  • Pathet Manyura → masa tua dan kematangan (ketenangan dan kebijaksanaan).

Dengan demikian, setiap pathet bukan sekedar aturan nada, melainkan metafora kehidupan dan spiritualitas dalam musik gamelan.

Baca juga:
Mengenal Titi Laras Slendro dan Pelog dalam Karawitan Jawa
Pengertian Karawitan dan Jenis Gending Karawitan Jawa
Gamelan Jawa, Nama-Nama Instrumen Gamelan dan Fungsinya