Sulawesi Tenggara adalah provinsi yang terletak di bagian tenggara Pulau Sulawesi. Provinsi ini dihadiri oleh beragam suku bangsa, antara lain suku Tolaki, Buton, Muna, Moronene, dan suku Bajo. Keragaman etnis tersebut melahirkan kekayaan budaya, termasuk dalam bentuk pakaian adat .

Pakaian adat Sulawesi Tenggara bukan hanya sekedar busana, tetapi juga penanda status sosial, simbol adat, serta wujud penghormatan kepada leluhur . Setiap suku memiliki ciri khas tersendiri dalam busana adat, yang sering kali ditentukan oleh warna, bentuk, hiasan, dan filosofi di baliknya.

Artikel ini akan membahas secara detail mengenai pakaian adat Sulawesi Tenggara, jenis-jenisnya, makna filosofis, hingga berlaku dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Sejarah Pakaian Adat Sulawesi Tenggara

Pakaian adat Sulawesi Tenggara lahir dari kebiasaan masyarakat lokal yang hidup dalam struktur sosial yang kuat. Dalam sistem tradisional, terutama di Kesultanan Buton, pakaian menjadi penanda kedudukan sosial dan martabat seseorang.

  • Kesultanan Buton (abad ke-14 hingga abad ke-20) memiliki aturan ketat tentang pakaian. Rakyat jelata, bangsawan, dan keluarga sultan memiliki perbedaan warna dan bentuk busana.
  • Masyarakat Tolaki menjadikan pakaian adat sebagai lambang kesopanan, kesuburan, dan keseimbangan hidup.
  • Masyarakat Muna dan Moronene memadukan busana adat dengan ritual tradisi, terutama dalam pernikahan dan upacara adat.

Dari sejarah ini terlihat bahwa pakaian adat Sulawesi Tenggara tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga sebagai simbol identitas dan stratifikasi sosial .

Jenis Pakaian Adat Sulawesi Tenggara

1. Pakaian Adat Buton: Babu Nggawi dan Babu Kandiu

Buton adalah salah satu wilayah dengan budaya yang paling berpengaruh di Sulawesi Tenggara. Umumnya orang Buton mengenakan pakaian biru-biru yang terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. Agar sarung tampak kuat, dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambul-jambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tanga. Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala, yang disebut biru-biru.
Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. Pakaian ini terdiri atas unsur baju dan kain sarung bermotif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. Terdapat dua sarung yang dikenakan. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan yang terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. Selain itu, kaum wanita juga memakai gelang, cincin, dan anting yang terbuat dari emas.
Masyarakat Buton juga mempunyai pakaian khusus yang dikenakan pada upacara adat, memingit gadis yang disebut posuo, dan upacara sunatan. Upacara posuo diperuntukkan gadis yang telah menginjak dewasa. Pada upacara tersebut, gadis yang dipingit diharuskan memakai pakaian kalambe yang terdiri atas baju kambowa, sarung dua lapis, ikat pinggang, dan perhiasan logam. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang, dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Ciri gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokenalimo.

pakaian adat buton

Sebuah upacara penting bagi seorang anak laki-laki sebelum mencapai usia remaja atau dewasa adalah upacara sunatan. Anak yang akan disunat ini memakai pakaian adat yang dinamakan ajo tandakiTandaki adalah mahkota. Yang boleh memakai tandaki adalah anak dari golongan bangsawan (kaomu). Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota, sarung berhias (bia ibolaki), dan ikat pinggang (sulepe). Mahkota dibuat dari kain merah, manik-manik, bulu burung cenderawasih, dan berbagai hiasan dari logam.
Jika akan menghadiri upacara resmi, kaum wanita biasanya berpakaian secara lengkap dengan perhiasannya. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan, anting-anting di telinga dan kalung menghias leher. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. Kelengkapan pakaian seperti ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu).

  • Babu Nggawi
    • Dipakai oleh wanita bangsawan.
    • Terbuat dari kain sutra tenun khas Buton.
    • Ciri khasnya berupa warna cerah dengan hiasan benang emas.
    • Dipadukan dengan hiasi kepala berupa mahkota kecil (sangule).
  • Babu Kandiu
    • Dipakai oleh wanita dari kalangan biasa.
    • Bentuknya lebih simpel dengan warna-warna polos.
    • Aksesori lebih sedikit dibandingkan Babu Nggawi.

Makna filosofinya: semakin megah pakaian, semakin tinggi status sosial pemakainya.

2. Pakaian Adat Tolaki: Babinsa dan Sanggulanda

Suku Tolaki, suku terbesar di Sulawesi Tenggara, memiliki pakaian adat yang sangat dikenal. Dahulu pakaian semacam ini hanya dikenakan oleh golongan bangsawan atau yang, menduduki jabatan tertentu dalam masyarakat. Sekarang masyarakat Tolaki memakai pakaian ini untuk pakaian pengantin, acara adat, atau acara-acara resmi lainnya.

pakaian adat suku tolaki

Pakaian lelaki terdiri atas babu ngginasamani (baju yang sudah diberi hiasan berupa sulaman), saluaro mendoa (celana), sul epe (ikat pinggang) dari logam, dan pabele (destar). Baju perempuannya disebut babu ngginasamani (baju), sawu (sarung), sulepe, dilengkapi dengan aksesori, antara lain tusuk konde dan hiasan sanggul berupa kembang-kembang yang dibuat dari logam, andi-andi (anting-anting), eno-eno (kalung leher), bolosu (gelang tangan), dan kakinya beralaskan solop (selop).

  • Untuk pria (Babinsa):
    • Menggunakan baju berlengan panjang dengan kerah tegak.
    • Dilengkapi dengan celana panjang serta sarung khas.
    • Kepala dekorasi ikat kepala (kalosara) yang melambangkan kehormatan.
  • Untuk wanita (Sanggulanda):
    • Menggunakan baju kebaya dengan kain tenun Tolaki.
    • Warna dominan adalah merah, kuning, dan hitam, masing-masing dengan filosofi:
      • Merah → keberanian.
      • Kuning → keagungan.
      • Hitam → keteguhan.
    • Perempuan juga memakai hiasan kepala berupa bunga emas serta perhiasan kalung, gelang, dan anting.

Pakaian adat Tolaki sering dipakai dalam pernikahan dan upacara adat seperti Mekui (penyambutan tamu).

3. Pakaian Adat Muna: Babu Nggawi Muna

Suku Muna mendiami Kabupaten Muna. Suku Muna biasanya kaum prianya mengenakan baju (bhadu), sarung (bheta), celana (sala), dan kopiah (songko) atau ikat kepala (kampurui) untuk pakaian sehari-hari. Bajunya berlengan pendek seperti baju model sekarang, dan warnanya putih. Ikat kepalanya berupa kain bercorak batik. Ikat pinggang yang dipakai terbuat dari logam berwama kuning. lkat pinggang ini berfungsi selain sebagai penguat sarung juga untuk menyelipkan senjata tajam. Sarung yang dipakai biasanya berwama merah bercorak geometris horizontal.

Pakaian yang dikenakan oleh kaum wanitanya terdiri atas bhadu, bheta, dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. Bentuk baju berupa baju berlengan pendek dan berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. Baju biasanya terbuat dari kain satin warna merah atau biru. Wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango untuk pakaian sehari-hari. Baju tersebut diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan, sedangkan lubang leher diberi hiasan dengan warna kuning emas. Sarung yang mereka kenakan umumnya berwarna merah, biru, hitam, cokelat, atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. Sebagai kelengkapan pakaian dipakai kalung bulat yang terbuat dari logam, gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan, dan gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki.

pakaian adat suku muna sulawesi tenggara

Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapisan. Lapisan pertama adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. Lapisan kedua untuk membalut baju, yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. Lapisan ketiga digulung melilit dada terkepit ketiak, dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan.
Salah satu upacara adat yang sampai saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). Dalam upacara ini, seorang gadis memakai pakaian adat beserta perhiasannya yang terdiri atas bhadu, bheta, selendang (salenda), dan ikat pinggang (sulepe). Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi), anting-anting (dali), kalung (tongko), gelang kaki (kurondo), dan sanggul. Perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu), tusuk konde (panto), dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale).

  • Wanita:
    • Memakai baju lengan panjang dengan kain sarung khas tenun Muna.
    • Warna pakaian biasanya biru atau merah.
    • Hiasan kepala berupa bando emas .
  • Pria:
    • Memakai jas tradisional dengan celana panjang.
    • Dilengkapi ikat kepala khas Muna.

Pakaian ini digunakan dalam acara pernikahan adat serta upacara adat keagamaan.

4. Pakaian Adat Moronene

Suku Moronene dikenal sebagai masyarakat agraris.

  • Pakaian pria:
    • Baju longgar dengan celana panjang.
    • Dilengkapi ikat kepala berwarna merah.
  • Pakaian wanita:
    • Menggunakan sarung tenun Moronene.
    • Atasan berupa kebaya dengan perhiasan emas.

Pakaian ini sederhana tetapi sarat makna tentang kesederhanaan dan kejujuran masyarakat Moronene.

5. Pakaian Adat Suku Bajo

Suku Bajo yang tinggal di pesisir dan laut memiliki busana khas.

  • Pria: baju longgar dengan celana kain dan ikat kepala.
  • Wanita: baju kurung longgar dengan sarung tenun.
  • Aksesorinya lebih banyak menggunakan perhiasan dari kerang atau manik-manik laut.

Filosofi dan Makna Pakaian Adat Sulawesi Tenggara

  1. Warna Pakaian
    • Kuning → simbol keagungan dan kemuliaan.
    • Merah → keberanian dan kekuatan.
    • Hitam → keteguhan hati.
    • Putih → kesucian dan kejujuran.
  2. Bahan Kain Tenun
    • Tenun khas Buton, Tolaki, dan Muna melambangkan kerja keras perempuan dalam pengabdian sebagai bentuk pengabdian keluarga.
  3. Hiasan Kepala
    • Menjadi lambang kehormatan dan status sosial.
    • Mahkota kecil melambangkan bangsawan, sementara ikat kepala melambangkan rakyat biasa.
  4. Perhiasan Emas dan Manik-Makik
    • Melambangkan kekayaan, kemakmuran, dan simbol doa agar hidup penuh rezeki.

Fungsi Pakaian Adat Sulawesi Tenggara

  1. Upacara Pernikahan – pasangan pengantin mengenakan busana adat lengkap sesuai sukunya.
  2. Ritual Adat – seperti upacara penyambutan tamu, pesta panen, atau ritual syukuran.
  3. Penanda Status Sosial – membedakan rakyat biasa dengan bangsawan di masa lalu.
  4. Identitas Etnis – membedakan setiap suku di Sulawesi Tenggara.
  5. Seni Pertunjukan – digunakan dalam tari-tarian tradisional seperti Tari Lulo atau Tari Linda.

Pakaian Adat dalam Kehidupan Modern

Saat ini pakaian adat Sulawesi Tenggara tidak lagi dipakai sehari-hari, namun tetap lestari dalam acara tertentu. Bahkan ada modifikasi pakaian adat agar lebih sesuai dengan gaya modern:

  • Gaun pengantin modern yang mengadaptasi warna dan motif tenun Tolaki atau Buton.
  • Baju resmi pejabat daerah menggunakan motif kain khas Sulawesi Tenggara.
  • Festival budaya menampilkan busana adat lengkap untuk menarik wisatawan.

Pakaian adat Sulawesi Tenggara adalah warisan budaya yang kaya akan nilai filosofis. Dari Babu Nggawi Buton, Babinsa Tolaki, Babu Kandiu, hingga pakaian adat Muna dan Moronene , semuanya menggambarkan identitas masyarakat setempat.

Meski zaman terus berubah, pakaian adat tetap menjadi simbol kebanggaan dan jati diri. Dengan pelestarian yang tepat, busana adat Sulawesi Tenggara akan terus hidup, tidak hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai inspirasi bagi generasi mendatang.

Baca juga:
34 Pakaian Adat Indonesia Lengkap Gambar, Nama, dan Daerahnya
Pakaian Adat Gorontalo, Lengkap Penjelasannya
Pakaian Adat Sulawesi Selatan, Lengkap Gambar dan Penjelasannya

Demikian ulasan tentang “Pakaian Adat Sulawesi Tenggara, Lengkap Penjelasannya” yang dapat kami sajikan. Baca juga pakaian adat daerah di Indonesia menarik lainnya hanya di situs SeniBudayaku.com.