Upacara Adat Jambi, Warisan Budaya yang Masih Lestari
Provinsi Jambi, yang terletak di pesisir timur Pulau Sumatra, dikenal memiliki kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu warisan penting tersebut adalah upacara adat Jambi. Tradisi ini bukan hanya sebatas ritual, tetapi juga cerminan filosofi hidup masyarakat Jambi yang menjunjung tinggi harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Upacara Adat Jambi
Upacara tradisional atau upacara adat merupakan upacara yang diselenggarakan menurut adat istiadat setempat. Upacara adat tidak bisa dipisahkan dengan agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat. Secara umum, upacara adat Jambi dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu;
- Upacara adat yang berhubungan dengan daur hidup (life cycle).
- Upacara adat yang berhubungan dengan aktivitas manusia dan lingkungannya.
Keduanya memiliki tata cara, makna, dan nilai-nilai luhur yang sarat akan pesan moral dan sosial.

1. Upacara Adat Daur Hidup di Jambi
Upacara adat daur hidup adalah ritual yang dilakukan untuk menandai fase-fase penting kehidupan seseorang, mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Masyarakat Jambi meyakini bahwa setiap fase ini memiliki nilai spiritual dan sosial yang perlu diiringi dengan adat istiadat.
Upacara ini mulai dilaksanakan dari kelahiran manusia sampai dengan masa kematian. Tiap tahapan hidup ini diadakan upacara adat yang berbeda. Sacara umum penyelenggaraan upacara adat ini terbagi atas upacara masa kehamilan, kelahiran, dewasa, perkawinan, dan masa kematian.
Pada masa kehamilan ada upacara Menuak/ Nuak. Upacara ini dilaksanakan saat usia kehamilan mencapai tujuh bulan. Upacara Menuak merupakan bentuk pemberitahuan resmi keluarga kepada dukun agar pada saat melahirkan dukun siap memberi pertolongan.
a. Upacara Kelahiran
Saat kelahiran tiba, dukun segera membantu kelahiran. Dukun wanita menyambut kelahiran bayi, sedangkan dukun pria di balik pembatas membaca mantra agar proses melahirkan berjalan lancar. Upacara ini disebut Menyambut.
Tujuh hari kemudian diadakan upacara Mandi Kayik yaitu upacara memandikan bayi ke sungai. Pada saat bersamaan dilaksanakan upacara pemberian nama. Upacara Potong Rambut dilangsungkan saat bayi berumur 40 hari. Upacara ini dilakukan oleh para alim ulama dan tua-tua tenggani. Pada usia tersebut juga dilaksanakan upacara Basuh Tangan yang bertujuan agar anak dikaruniai sifat-sifat baik.
- Makna:
Menyambut kelahiran bayi sebagai anugerah Tuhan dan memohon keselamatan serta masa depan yang baik. - Prosesi:
Pada umumnya, keluarga akan mengadakan syukuran dengan pembacaan doa, pemberian nama, dan pembagian makanan kepada tetangga. Dalam beberapa komunitas adat, dilakukan prosesi mandi bayi dengan air yang telah didoakan. - Nilai budaya:
Menumbuhkan rasa syukur, silaturahmi, dan kepedulian sosial.
b. Upacara Khitanan
Bagi anak laki-laki yang telah berumur 6-10 tahun diadakan upacara Khitanan. Upacara yang juga disebut Sunat Rasul anak berendam separuh badan selama satu jam ini dilakukan oleh dukun khitan. Sebelum dikhitan, Dukun menggunakan sebilah sembilu dan obat dan ramuan alami untuk melakukan proses khitan. Khitan merupakan tanda pendewasaan atau pengislaman. Pada usia yang sama seorang wanita melakukan upacara Batindik yaitu upacara melubangi daun telinga. upacara ini biasanya dilaksanakan bersamaan dengan tradisi Khatam Alquran.
- Makna:
Khitanan adalah simbol kedewasaan bagi anak laki-laki dan bagian dari ajaran agama. - Prosesi:
Biasanya diawali dengan arak-arakan atau pawai keliling kampung. Anak yang akan disunat dihias dengan busana tradisional, diiringi musik dan tarian daerah. - Nilai budaya:
Mengajarkan keberanian, kebersamaan, dan penghormatan pada nilai agama.
c. Upacara Pernikahan Adat Jambi
Saat anak sudah dewasa, yang berarti sudah menjadi seorang pemuda (bujang) dan pemudi (gadis), akan menjalani kehidupan selanjutnya. Masa perkawinan adalah tingkatan berikutnya. Namun, sebelumnya akan didahului dengan rangkaian upacara adat setempat. Diawali dengan berserambahan yang menjadi ajang pertemuan antara pemuda dan pemudi. Dalam acara ini para bujang dan gadis akan memperlihatkan keahlian berpantun yang dinamakan seloka muda. Dari sinilah seorang pemuda atau pemudi menentukan pilihannya. Setelah terjadi kesepakatan untuk hidup bersama, dilanjutkan tahap berikutnya.
Ada lima tahap upacara adat yang dilalui oleh seorang muda mudi sejak perkenalan sampai tahap perkawinan. Tahap upacara tersebut sebagai berikut
- Berusik sirih bergurau pinang merupakan tahapan menjajaki perasaan tiap-tiap pihak untuk melanjutkan hubungan ke pernikahan. Pihak pemuda berkunjung ke pihak gadis. Keluarga pemuda diterima jika disuguhi sirih lengkap dalam cerana dan sajian makanan lainnya. Dalam pembicaraan diawali dengan berbalas pantun. Apabila terjadi kesepakatan, dilanjutkan dengan tukar-menukar tando berupa cincin atau kain. ‘
- Duduk bertuik tegak bertanyo merupakan tahapan mengetahui perihal si gadis seperti silsilah, budi pekerti, sopan santun, pergaulan, dan pendidikan. Hal ini sangat penting bagi orang tua kedua belah pihak untuk mengambil menantu. Keterangan ini diperoleh dengan bertanya kepada pihak keluarga atau para tetangga.
- Ikatan buatan janji semayo merupakan musyawarah resmi antara kedua belah keluarga. Dalam acara yang Juga dihadiri tokoh alim ulama, tokoh adat, ninik mamak, dan para kerabat ini membicarakan waktu pertunangan dan perkawinan.
- Ulur antarserah terimo pusako merupakan upacara di mana pihak laki-laki menepati janji dengan mengantar barang-barang ke rumah gadis. Barang-barang ini diterima oleh ninik mamak keluarga gadis. Barang-barang yang diserahkan berupa emas, selaras bedil, tujuh ekor ayam, sebatang tombak, seekor kerbau, dan pakaian lengkap yang jumlahnya serbadua.
- Sedekah labuh merupakan inti dari upacara perkawinan. Upacara perkawinan ini diresmikan dengan akad nikah dan akad kabul di hadapan seorang pemuka agama atau penghulu. Kemudian, pengantin yang berpakaian adat kebesaran duduk di pelaminan. Pesta perkawinan dimeriahkan dengan berbagai kesenian tradisional seperti tari-tari, pantun, dan permainan tradisional.
Keesokan harinya pengantin melakukan mandi bersiram dan dilanjutkan dengan makan bersuap-suapan. Upacara ini berlangsung berulang-ulang sampai malam penutup yang disebut malam bersuluh. Upacara Malam Bersuluh biasanya jatuh pada hari ketiga usai peresmian perkawinan. Rangkaian upacara ini ditutup saat kedua pengantin baru bersujud kepada kedua orang tua mempelai utuk memohon doa restu.
- Makna:
Pernikahan adat di Jambi bukan hanya penyatuan dua insan, tetapi juga pengikat hubungan antar keluarga besar. - Prosesi:
Rangkaian upacara meliputi merisik (menanyakan calon mempelai), meminang, akad nikah, hingga resepsi dengan adat Jambi. Pengantin mengenakan busana adat yang mewah dengan dominasi warna emas, lengkap dengan mahkota. - Nilai budaya:
Mengajarkan kesakralan pernikahan, kesopanan, dan penghormatan terhadap adat.
d. Upacara Kematian
Kehidupan terus berlanjut sampai kematian datang menjemput. Pada tradisi masyarakat Jambi, saat manusia menghadapi masa kritisnya yaitu menjelang kematian perlu dilakukan usaha memperteguh iman. Usaha ini dilakukan dengan pengucapan mantra-mantra oleh dukun. Bagi yang menganut agama Islam dilakukan dengan pembacaan bardah dan Surah Yasin. Hal ini dilakukan agar dapat membuat tenang bagi orang yang menghadapi kematian. Rangkaian upacara kematian bagi yang beragama Islam meliputi memandikan, mengafani, menyalatkan, dan mengubur jenazah. Malam harinya diadakan pengajian dan tahlil selama tiga atau tujuh malam. Hari ketujuh diadakan upacara Naik Tanah yaitu memperbaiki tanah pekuburan. Rangkaian upacara kematian ditutup dengan makan bersama (sedekah selamatan).
- Makna:
Menghormati dan mendoakan orang yang meninggal dunia. - Prosesi:
Setelah pemakaman, keluarga mengadakan doa bersama dan tahlilan pada hari ke-3, 7, 40, 100, hingga 1000. Dalam beberapa suku di Jambi, terdapat tradisi makan bersama sebagai wujud kebersamaan. - Nilai budaya:
Mengajarkan penghormatan terhadap leluhur dan kepedulian antar sesama.
2. Upacara Adat yang Berhubungan dengan Aktivitas Manusia dan Lingkungannya
Jenis upacara ini berhubungan dengan aktivitas hidup sehari-hari masyarakat Jambi dengan lingkungan alam, mulai dari pertanian, perikanan, hingga hubungan dengan alam dan kekuatan spiritual. Pada awalnya upacara-upacara ini sangat kental dengan nuansa tradisi nenek moyang. Namun, seiring perkembangan zaman tata cara pelaksanaan upacara-upacara ini sudah dikombinasikan dengan ajaran agama Islam yang mayoritas dianut penduduk Jambi.
a. Kenduri Sko
Kenduri Sko merupakan upacara penobatan atau pemberian gelar adat di Enam Lurah, Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci. Gelar adat hanya diberikan kepada seseorang yang dianggap sudah memenuhi syarat menyandang gelar Depati atau Permeti di Sungai Penuh.
Salah satu yang khas dari kenduri sko yaitu bentuk undangannya. Undangan tidak berbentuk kartu atau surat, tetapi berbentuk sebuah bendera yang dinamakan keramantang. Tinggi tiang bendera mencapai 25 meter yang terbuat dari bambu. Siapa saja yang melihat bendera ini berarti telah mendapat undangan untuk menghadiri pesta adat kenduri seko. Pada puncak acara semua pusaka dari tiap-tiap lurah dikeluarkan untuk penobatan gelar. Selanjutnya, acara makan bersama para tamu undangan di tiap-tiap rumah penduduk.
- Makna:
Kenduri Sko adalah upacara pengukuhan gelar adat yang biasanya diberikan kepada seseorang karena jasa atau keturunannya. - Prosesi:
Dilaksanakan di balai adat dengan menghadirkan para tetua adat. Prosesi diawali dengan pembacaan naskah adat, pemberian gelar, dan diakhiri dengan jamuan makan bersama. - Nilai budaya:
Mengajarkan penghargaan terhadap jasa dan peran masyarakat dalam adat.
b. Upacara Menugal
Upacara adat “menugal” di Jambi, yang dikenal juga sebagai Baselang Nugal, adalah ritual adat yang berkaitan dengan kegiatan bertani, khususnya membuka lahan untuk menanam padi. Tradisi ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Jambi, khususnya di Kabupaten Merangin, sebagai bentuk kearifan lokal dalam menjaga keberlangsungan pertanian.
- Makna:
Ritual pembukaan lahan pertanian sebelum musim tanam padi. - Prosesi:
Dilakukan secara gotong royong, diiringi doa dan musik tradisional. Petani bersama-sama menugal (membuat lubang di tanah) dan menanam benih pertama. - Nilai budaya:
Mengajarkan kerja sama, rasa syukur, dan penghormatan terhadap tanah.
c. Mandi Shafar
Mandi Shafar merupakan upacara ritual yang berkembang di Desa Air Hitam Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Tujuannya agar warga desa terhindar dari segala macam musibah atau kesialan. Ada tiga prosesi dalam upacara adat ini, yaitu menulis atau menghafal tujuh ayat Alquran yang diawali dengan kata “salamun”, berniat mandi, dan mandi. Upacara ini hanya dilaksanakan setahun sekali yaitu setiap malam Rabu minggu terakhir bulan Shafar.
- Makna:
Tradisi mandi bersama di sungai atau laut yang dipercaya dapat menolak bala. - Prosesi:
Biasanya dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar (kalender Hijriah). Masyarakat berkumpul di tepi sungai, membawa makanan, lalu mandi atau berendam bersama. - Nilai budaya:
Menjaga kebersihan diri, mempererat silaturahmi, dan melestarikan tradisi.
d. Ngukus
Upacara adat “Ngukus” di Jambi, khususnya pada pengurusan jenazah, adalah tradisi yang melibatkan penggunaan dupa dan kemenyan untuk menghormati dan berkomunikasi dengan leluhur serta membersihkan ruangan dari energi negatif. Tradisi ini juga dilakukan dalam konteks lain seperti pernikahan dan upacara adat lainnya, meskipun dengan variasi dan tujuan yang berbeda.
- Makna:
Ritual pengobatan tradisional dengan uap rempah-rempah untuk menyembuhkan penyakit atau mengusir gangguan gaib. - Prosesi:
Dilakukan oleh dukun atau orang yang ahli, menggunakan air rebusan rempah yang dipanaskan, lalu pasien duduk di dekat uapnya sambil membaca doa. - Nilai budaya:
Melestarikan pengetahuan pengobatan tradisional.
e. Upacara Mintak Ahi Ujan
Mintak Ahi Ujan merupakan upacara adat meminta turunnya air hujan. Upacara adat ini biasanya dilakukan apabila menjelang musim tanam hujan tidak turun atau terjadi kemarau panjang. Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun dan dihadiri oleh para pemilik sawah dan masyarakat sekitar. Bagi yang menganut agama Islam dilakukan dengan salat meminta hujan (istiqo).
- Makna:
Ritual permohonan turunnya air hujan menjelang musim tanam saat hujan tidak turun atau terjadi kemarau panjang. - Prosesi:
Petani mengadakan doa bersama, memberikan sesaji sederhana di sawah, dan bagi yang beragama islam melakukan salat istiqo. - Nilai budaya:
Menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Selain upacara-upacara adat tersebut, Provinsi Jambi juga memiliki berbagai upacara adat lainnya. Upacara-upacara adat itu yaitu nugal bejalo, nguyun luci, mandi air asin, dan makan di kelung.
Demikian ulasan tentang “Upacara Adat Jambi, Warisan Budaya yang Masih Lestari” yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel kebudayaan Jambi menarik lainnya di situs SeniBudayaku.com.
